Sabtu, 10 Juni 2017

Ketika Kemuliaan Menunjukan Kehebatannya

Sabtu, Juni 10, 2017 oleh

Ketika Kemuliaan menunjukkan kedigdayaannya.

Syahdan suatu ketika seorang Lansia
Sendiri,  suaminya meninggal beberapa tahun silam....

Sehingga Gubuknya yang renta sudah tak sanggup lagi memayungi...
Reyot dan hampir rubuh....

Berkelindan tahun,  ia harus numpang di rumah anaknya...
Berjubal bersama cucu2nya....

Alhamdulillah..... wa Syukurilah....

Masih ada manusia mulia yang berkenan membantu nya...

Dan,  Rumahnya kini berdiri lagi.....

Dan,  Mak Rinah lun tak sanggup bagaimana harus berterima kasih.....

Namun doa yang terucap dan tak terucap selalu bergaung dari hatinya yang polos.....

#berkahramadan

Rabu, 07 Juni 2017

Bekasi Kampung BETAWI OrA

Rabu, Juni 07, 2017 oleh

Sebelumnya, Kampung Betawi Ora memohon maaf bila di sini ada tambahan tulisan yang khusus mengenai Bekasi. Ini karena sesuai dengan nama kampungnya yaitu Kampung Betawi Ora yang kerap diidentikkan oleh Orang Betawi Jakarta sebagai Bekasi dan sekitarnya di luar Jakarta. Jadi harap maklum bila Kampung Betawi Ora mencoba memperkenalkan nama kampungnya sendiri. Atas perhatiannya Kampung Betawi Ora mengucapkan banyak terimakasih.

Nama Bekasi menurut Prof. Dr. Poerbatjaraka berasal dari kata Chandra atau Sasih artinya Bulan dan Bhaga artinya Bahagian. Semula dari Chandra Bhaga melalui kata Bhagasasi menjadi Bekasi. Nama ini merupakan salah satu kota penting pada zaman kerajaan Tarumanagara. Hal ini berdasarkan penemuan-penemuan benda-benda sejarah di kabupaten Bekasi, berupa :

Alat pemukul kulit kayu di Cariu (Cibarusa).Periuk di Buni Wates.Benda sejarah lainnya di Buni Babelan seperti Kapak Batu, Tengkorak, Gelang, Cincin, Periuk.Prasasti Tugu yang ditemukan di Cilincing.Daerah Bekasi telah memegang peranan kebudayaan sebelum lahirnya Pajajaran, dan secara geografis Bekasi masuk daerah kerajaan Tarumanagara pada abad ke-15.
Abad ke-9 dan 10 lahirlah kerajaan Pajajaran sebagai kelanjutan dari kerajaan Galuh dengan ibukotanya Pakuan Pajajaran Bogor dan kota-kota pelabuhan penting tercatat pula lahir di zaman ini ialah Karangantu (Banten), Tangerang, Kelapa, Bekasi, Karawang, Cilamaya dan Cirebon.
Bekasi pada waktu itu bukan saja salah satu kota pelabuhan penting kerajaan Pajajaran, bahkan sejak zaman kerajaan Galuh, Bekasi memegang peranan di dalam jalan-jalan darat sampai zamannya kerajaan Pajajaran antara kota-kota Pakuan Pajajaran, Bogor – Cileungsi (Cibarusa) – Warung Gede – Tanjung Pura – Karawang – Cikao – Purwakarta – Sagara Herang – Sumedang – Tomo – Raja Galuh – Kawali – Bojong Galuh (Ciamis).
Jalur jalan darat ini dahulu merupakan jalan raya penting pada zaman kerajaan Galuh sampai kerajaan Pajajaran (Bogor). Setelah kerajaan Pajajaran Runtuh oleh serangan tentara Maulana Yusuf kerajaan Islam Banten, daerah Pajajaran ada di bawah pengaruh agama islam. Namun karena pengaruh pemerintahan kurang terbina sepenuhnya, maka lahirlah kerajaan Sumedang Larang sebagai pewaris yang dekat keturunan kerajaan Pakuan Pajajaran.
Kerajaan Sumedang Larang (Sumedang) meliputi penguasaan daerah kerajaan kecil (kabupaten) Sumedang, Sukakerta, Limbangan, Galuh, Bandung, Cianjur dan Karawang termasuk Bekasi. Di saat itu Karawang meliputi daerah penguasaan Bekasi, Sindang Kasih (Purwakarta), Sagara Herang (Subang) sekarang karesidenan Purwakarta. Di luar daerah tersebut di wilayah Jawa Barat di bawah kekuasaan langsung kerajaan Banten dan Cirebon.
Setelah Jayakarta direbut oleh VOC dan berdiri Batavia sejak tanggal 30 Mei 1619 M Sumedang Larang sudah bergabung dengan kerajaan Mataram, daerah Karawang dan Bekasi inilah menjadi daerah penting dalam pertemuan-pertemuan melawan pasukan kerajaan Mataram yang dibantu oleh pasukan-pasukan kerajaan kecil dari daerah Jawa Barat melawan Belanda. Di saat itulah daerah Bekasi dan Karawang terkenal dijadikan daerah persediaan bahan makanan untuk peperangan melawan Belanda dengan dibukanya hutan dan rawa-rawa untuk persawahan di samping pusat pengumpulan pasukan dalam melawan tentara VOC yang menguasai Sunda Kelapa dan Jayakarta. Pada akhirnya, Bekasi ada dalam kekuasaan Belanda menjadi salah satu daerah Meeser Comelis (Jatinegara) dan setelah jaman Jepang berkuasa, Bekasi menjadi wilayah kabupaten terlepas dari Kabupaten Karawang yang berkedudukan ibukotanya di Purwakarta.
Namun perlu diketahui pula Jatinegara atau Kabupaten Jatinegara berusaha menjadi Kabupaten Bekasi, Kabupaten Jatinegara berubah menjadi Jatinegara yang meliputi Gun Cikarang, Gun Bekasi, Gun Kebayoran dan Gun Matraman.
Pada masa revolusi fisik ibukota kabupaten Jatinegara berpindah-pindah dari Bekasi ke Tambun, Cikarang dan terakhir di Kedung Gede sebagai daerah perjuangan (Front Perjuangan). Pada tanggal 21 Juli 1947 tentara Belanda menyerang daerah RI sehingga pemerintah Kabupaten Jatinegara turut bergerilya untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada tanggal 17 Februari 1960 rakyat Bekasi kurang lebih 40.000 orang mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk mengganti nama Kabupaten Jatinegara menjadi Kabupaten Bekasi.
(disunting dari berbagai sumber).

Tulisan M. Abba Eban di blog kampungbetawiora.blogspot.com

Buni : Lokal Genius Bekasi

Rabu, Juni 07, 2017 oleh

BEKASI. Masa lalu dan Tinggalannya merupakan kekayaan Kabupaten Bekasi. Sosoknya yang usang kerap membuat banyak pihak yang tidak mengacuhkan keberadaannya. Padahal dari tinggalan-tinggalan yang ada kerap mempertemukan manusia dengan segala kearifan dan rahasia ilmu pengetahuan masa lalu. Manusia kiwari juga bisa menemukan kembali (reinventing) mata rantai sejarah yang hilang. Kepedulian atas Benda Cagar Budaya ini penting dalam membangun karakter orang Bekasi serta memanfaatkannya sebagai potensi kearifan lokal dalam orientasi pada peningkatan PAD.

Dalam nomenklatur arkeologi nasional, Buni sudah tercatat sebagai Situs. Namun, pengakuan ini masih sebatas pengakuan akademik. Belum dilakukan pencatatan resmi dan pengajuan untuk mendapatkan sertifikasi dan registrasi secara nasional.  Namun demikian, penelitian tentang Benda Cagar Budaya di Kabupaten Bekasi sudah pernah dilakukan tahun 2009 dan dibukukan. Di dalam buku tertulis Situs Buni sebagai Benda Cagar Budaya peninggalan Bekasi. Sayangnya memang dibuku itu hanya melakukan inventarisasi benda cagar budaya di seluruh Kabupaten Bekasi. Akibatnya, tidak detail, kurang komprehensif dan tidak ditindaklanjuti.



Menurut UU no 11 tahun 2010, Benda Cagar Budaya  harus dilakukan pencatatan (registrasi) dan penetapan.  Pendaftaran adalah upaya pencatatan benda,bangunan, struktur, lokasi, dan/atau satuan ruang geografis untuk diusulkan sebagai Cagar Budaya kepada pemerintah kabupaten/kota atau perwakilan Indonesia di luar negeri dan selanjutnya dimasukkan dalam Register Nasional Cagar Budaya. (pasal 1 ayat 16, UU no 11 tahun 2010).

Selain itu, perlu juga dilakukan penetapan oleh Bupati. Penetapan adalah pemberian status Cagar Budaya terhadap benda, bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya (pasal 1 ayat 17)

Agenda Sarasehan Situs Buni sesuai dengan misi nomor 3 yakni Mengembangkan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif. Terkait dengan perlindungan cagar budaya.

PRA ASUMSI tentang SITUS BUNI

Nomenklatur sejarah membuktikan. Bahwa Bekasi memiliki artikulasi penting di pentas sejarah dan budaya nasional. Cecep Eka Permana menegaskan peran dan artikulasi budaya Bekasi dalam buku berjudul Benda Cagar Budaya Kabupaten Bekasi. Katanya, “Bekasi merupakan salah satu daerah yang memiliki peninggalan cagar budaya yang potensial. Daerah Bekasi sekarang merupakan wilayah yang memiliki multi components sites (situs multi zaman), mulai dari jaman prasejarah, klasik, Islam, Kolonial hingga kemerdekaan.”

Lebih lanjut, ia menyebut Situs Buni sebagai situs terkenal yang berasal dari jaman prasejarah. Buni dikenal karena penemuan gerabahnya yang khas. Model gerabah buni cukup luas sehingga disebut Komplek Gerabah Buni (Buni Pottery Complex).

Situs Buni juga ditulis dalam publikasi resmi Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional  yang menjelaskan bahwa Komplek Gerabah Buni adalah suatu komunitas masyarakat prasejarah yang berkembang di sepanjang Pantai Utara Jawa Barat mulai dari daerah Buni, Bekasi sampai Cilamaya, Karawang (hal 89, tahun terbit 20120).

Situs Buni mulai terangkat saat penemuan emas oleh warga saat sedang memacul sawah. Berkembanglah kemudian isu yang menyatakan di wilayah itu banyak ditemukan emas. Penggalian liar pun terjadi. Banyak lahan-lahan warga yang rusak. Begitupun potenis arkeologisnya.

Pun demikian, tahun 1960 penelitian Situs Buni dilakukan Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Sekarang namananya Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Survey bergelombang. Selanjutnya tahun 1964, 1969 dan 1970. Hasilna luar biasa. Temuan-temuan tembikar dari berbagai macam bentuk dan ukuran. Ada periuk, mangkuk berkkai, kendi dan tempayan. Ada juga beliung persegi, artefak logam perunggu dan besi, gelang dari batu dan kaca, perhiasan emas, manic-manik, bandul jala dari terakota dan tulang belulang manusia purba. Diperkirakan tempat itu disinyalir sebagai pemakaman.

Nah, kini tergantung masyarakat dan pemerintah daerah.  Akan menggunakan potensi ini sebagai asset kekayaan arkeologis atau biarkan karun itu tergeletak santai di pelataran peradaban dunia. Sementara, orang lain amat mengaguminya…(@komarbekasi

Jumat, 21 Oktober 2016

Kramat Rengas 5, Kecerdasan Ekologis

Jumat, Oktober 21, 2016 oleh



 


Di tepi Kali Citarum, lima pohon Rengaas berderet secara unik.  KRAMAT RENGAS LIMA, demikian orang-orang sekitar menyebutnya. Ini berupa 5 buah Pohon Rengas yang berderet kea rah Utara Selatan.

Kampung Kramat Lima, Desa Lenggah Jaya, Kec Cabang Bungin. Lokasi di pinggir Sungai Citarum dan dibawahnya ada warung nasi dan minuman ringan. Pohon berukuran besar dan diduga sudah berusia ratusan tahun. Ini perlu dibuktikan dengan uji lab.


Tidak ada data dan fakta yang pasti menyangkut Pohon rengas Lima yang berdiri sejajar dengan Sungai Citarum. Hanya cerita pak Tinggul yang secara kebetulan bertemu di lokasi. Secara spiritual ini merupakan istana dari Buaya Putih yang disebut Bintang Timur . Bintang Timur saat ini bersemayam secara ghaib di Muara Nawan.

Belum ada jawaban mengapa Pohon Rengas ini dianggap keramat oleh penduduk setempat kecuali pembelajaran soal kecerdasan ekologis yang menempatkan pelestarian pohon-pohon sebagai produksi oksigen dan menjaga ekosistem.

Bisa jadi memang ini pertanda mengingat Pohon rengas ini kayunya tidak bisa dipakai dan buahnya juga tidak bisa dimakan. Malah terkadang untuk orang-orang tertentu yang memiliki alergi, Pohon Rengas bisa membuat gatal-gatal. Kondisi ini memungkinkan Pohon rengas aman dari tangan-tangan jahil manusia. (kim)