Sabtu, 28 Oktober 2017

SUMPAH PEMUDA BOCAH KAMPUNG

Banyak cara memeringati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober.

Salah satunya dilakukan para Bocah Kampung Piket, Sukatenang, Kec. Sukawangi yang tergabung di TPQ dan Ponpes ADDABUL MUQARROMAH.

Mereka membangun Taman Sumpah pemuda dari barang2 bekas. Asbes, bata, bekas keramik dlsb.

Diakhiri dengan hormat... Hmm... keterbatasan tidak menjadi alasan untuk belajar kreatif.
Ketidakmampuan berekreasi ke Tam Impian Jaya Ancol tidak melemahkan para Bocah.

Mereka bekerja. Belajar Berkarya. Berkreasi sekehendak hati mereka. Sebuah proses dari perjalanan kehidupan utk Masa Depan yang lebih baik.

Ariel, Heri dan Riski membuktikan pada dunia bahwa Mereka juga punya Hak untuk bermain, belajar menghayati Sumpah Pemuda dengan cara mereka.

Terus belajar anak-anakku,
Alam dan lingkungan kalian lebih dari cukup untuk belajar.

Belajar kepada alam. Belajar kepada semesta.Belajar dari sesuatu yang ada di depan mata.

Buktikan pada dunia, Kalian bukan generasi cengeng yang hanya pandai memanfaatkan fasilitas pemerintah.

Terus belajar anak-anakku, terulah menyerap dan menggali pengetahuan daei alam. Dari semesta.
Pasti, Mestakung....SEMESTA MENDUKUNG!

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA.....!!!

Rabu, 18 Oktober 2017

Tafsir Ideologis Akar Kelapa

Rabu, Oktober 18, 2017 oleh


Oleh : Komarudin Ibnu Mikam

Ini bukan sekadar kuliner biasa. Akar kelapa. Kue khas Bekasi dari sub kultur Betawi. Bentuknya lempeng seukuran telunjuk orang dewaasa. Bergerigi dan memutar mirip obat nyamuk. Begitu modelnya mulai dari engkong kita remaja sampai yang dulu remaja menjadi engong-engkong.  Belum ada varian inovasi model akar kelapa.
Apakah selesai sampai di sini? Eits, pasti gak.
Mari jujur dengan realitas peradaban saat ini. Makanan dan segala hal terkait dengannya tidak berdiri sendiri. Makanan juga adalah representasi dari ideology, politik, penyikapan dan orientasi hidup.  Ketika anda duduk dan makan di sebuah restoran fast food di mal-mal kelas wahid, apakah ketika itu hanya mengunyah segumpal daging ayam yang konon katanya berusia 14 hari ditambah saus dan nasi setangkup? Tentu bukan hanya itu.  Makan ayam goreng dibungkus terigu merupakan ritual yang harus dilalui. Ini pentasbihan individu untuk disebut sebagai kalangan modern.
Fast food sebagai wakil dari roda zaman yang bersifat instan. Bukan hanya usia ayam broiler yang hanya 14 hari. Proses penyediaannya pun tak butuh waktu bermenit-menit. Cukup tunjuk, ayam sudah siap digelontorkan ke lidah dan dikirim ke lambung. Ini memang tuntutan roda zaman yang butuh segala sesuatunya cepat.  Budaya pintas batas tuntas. Miriplah dengan postulat yang dibangun kebiasaan Short Message Service alias SMS.  Restoran cepat saji yang di Negara asalnya konsumsi orang-orang miskin di sini menjadi konsumsi kelas elit dengan antena intelektual sejengkal.
Maka, jangan remehkan makanan yang tersaji. Dalam sejarah Republik ini, karena urusan makananlah yang mendorong Belanda mengangkangi selama tiga setengah abad. Rempah-rempah sanggup menjadi bahan bakar yang mendorong kapitalis Eropa mendendangkan kolonialisme dengan title Gold, Glory dan Gospel.
Di belantara budaya khas Bekasi, makanan bukan sekadar gegaresan doang (food only). Makanan juga tentakel budaya dalam konteks pendidikan orang Bekasi. Coba saja lihat ada laku khusus yang dilakukan saat membuat  penganan tertentu. Itu artinya jiwa raga dan spiritual menyatu padu.
Mari kita kembali bicara soal akar kelapa.
Kue akar kelapa tidak hanya terdiri dari 900 gram tepung ketan, 225 gram gula pasir, 6 butir telur ayam, 200 gram margarin, kemudian cairkan 200 ml air.  Tapi, akar kelapa punya makna filosofis yang dalam.
Nama  akar kelapa terdiri dari dua suku kata. Akar dan Kelapa.
Akar. Akar adalah bagian pokok di samping batang dan daun bagi tumbuhan yang tumbuh menuju inti bumi kormus. Akar merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya. Ini pelajarannya. Pemakan akar kelapa itu selalu menghidupkan ke arah tumbuh dan pusat kehidupan yakni Allah swt, Tuhan Seru Sekalian Alam. Ini hikmah pertama dan utama. Bahwa Akar Kelapa bermakna tauhid. Sesuai pula dengan karakter pohon kelapa yang kokoh, konsisten, menjulang, tegar dan selalu ke atas: Sang Pencipta. Artinya, ada nilai-nilai tauhid di akar kelapa.
Akar biasanya tumbuh terus pada ujungnya. Bentuk ujungnya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah. Itu artinya kita yang memakan kue Akar Kelapa harus memiliki ketajaman intelektual untuk menembus tantangan zaman. Tanpa tajamnya pemikiran. Sulit menembus kendala.
Dengan kalimat lain, Akar Kelapa mengikat orang-orang Bekasi untuk tetap teguh pada akar budaya kita. Tidak boleh tercerabut akar budaya ini. Hanya jadi memedi hidup.  Zombie.  Banggalah dengan akar budaya kita sebagai orang Bekasi. Menyatu dari Tarumajaya sampai Pondok Gede. Dari Pondok Gede sampai Cibarusah. Dari Cibarusah sampai Muara Gembong. Satu menyambung menjadi satu. Itulah Bekasi kita. Hidup Bekasi!!!!
Sementara Kelapa itu merepresentasi pohon Kelapa yang terkenal akan kemanfaatannya untuk kehidupan. Dari akar sampai pucuk pohon kelapa. Semuanya berguna. Makanya Pramuka menjadikannya lambang.  Kelapa pohon kehidupan.
Daging buah kelapanya bisa diperas. Sarinya dijadikan santan. Melezatkan sayur dan kue. Masuk untuk menjadi manis atau asin. Atau apa pun. Santan tidak terlihat. Tapi pengaruhnya luar biasa. Ini pasti kurang santan. Begitu kata yang ahli bila mengomentari penganan yang kurang lezat.
Begitu sejatinya orang Bekasi. Makan Akar Kelapa menjadi manusia-manusia berguna. Bukan sampah masyarakat.  Orang Bekasi plural. Terbuka dan inklusif serta akulturatif.  Sangat menghargai llmu pengetahuan. Menyerap yang baik berakulturasi dengan yang sudah lama hidup di sini.
Akar Kelapa juga momentum peringatan untuk Sunda Kelapa. Pada 22 Juni 1527, Nama lawas dari Jayakarta  yang kemudian berubah menjadi Jakarta. Kampung orang-orang Betawi. Sejatinya, orang-orang yang dulu ditemukan di Pesisir Bekasi ini adalah para keturunan raja pewaris negeri. Namun Kompeni Belanda melakukan dekonstruksi budaya dengan menyebut orang-orang disitu dengan sebutan Batav. Yang artinya budak. Ini stempel. Stigmatisasi atas pewaris sah yang dilabel ; Jongos. Biar gak minta kekuasaan. Repot kalau masyarakat Sunda Kelapa tahu jati dirinya. Konon, sampai saat ini kita tidak tahu dimana makam Pengeran Jayakarta.
Ayo, kita bikin Gerakan Akar Kelapa. Agar lebih bangga sebagai orang Bekasi. Hidup Akar Kelapa. Hidup Bekasi!! (Komarudin Ibnu Mikam, Relawan Budaya. Patok Besi Penjaga Tradisi)

Senin, 16 Oktober 2017

SAJAK SEPASANG BITE

Senin, Oktober 16, 2017 oleh


Karya : Komarudin Ibnu mikam

Tersadar
Bahagia itu sederhana
Sepasang bite terdampar di lautan coran
Tak bisa menangis, hanya nyesek
Karena memang menangis pun tak guna pula
Ia tetap dilupakan….
Tetap memunah di ruang-ruang bermain bocah ledok Bekasi

Karena memang protespun bagai teriak di pipa kosong
Karena memang teriakpun hanya menebar garam di laut

Tersadar
Bahagia itu sederhana
Sepasang bite terhampar di tengah memori bocah Bekasi,
Eh itu dulu….
Ketika dampu masih dimainkan bersama getok babi dan pleduran
Saat gogolio meraja di dunia bocah Bekasi
Waktu teprak kerap disebut

Tersadar
Bahagia itu sederhana...

Ya, itu waktu itu
Waktu itu ya itu
Memang adanya begitu
Namun tak kalah asyik dan menyatu

Tersadar
Bahagia itu sederhana

Bite , yang terlihat tak berguna masih kerap dimainkan
Bareng benteng yang bisa bermain dengan siapa saja
Digelar enggrang menjaga keseimbangan
Disela-sela panggal memusing dengan riang

Berpaculah kuda pelepah pisang
Menaiki gelombang bersama koang
Nyaring dengan gebang selembar doang
Hanya modal bambu sebatang
Ditimbang perlahan dan seimbang
Diraut  hingga mulus terhidang
Dipeluk kertas-kertas bekas mengembang

Sepasang bite mencangkung bersama pletokan
Menata bambu kecil berlubang yang terhempas

TOK!
Begitu bunyinya
Seiring lari-larian bocah angon berperang perangan
Berlagak bak pahlawan kesiangan
Biji jambu yang diketok membentur angin datanglah senang

Ku tersadar bahwa bahagia itu sederhana
Tak perlu merengek di dompet baba membelikan Pe Es

Ayo adu lingi!
Ilalanng-ilalang terbang melayang
Beradu jauh di ujung siang
Beradu tinggi melawan awan
Sebelum kebo gupak di kobak kong Diman

Ketika karet dibentang
Bak penari balet berjinjit melompat
Dipegang satu ujung ke ujung lainnya
Dari telapak rendah
Dengkul
Pinggang
Dada
Kepala
Dan…
sejengkal di atas kepala!

Hom pimpah alaihim gambreng
Mari kita bermaen dan kita serahkan hasilnya kepada Tuhan!

Cing ciripit tulang bawang,
Siapa kejepit tunggu lobang
Tak umpet
Tembak nama
Ambil abu dapur digaris Galasin

Sim sim terima rima kasim sim, simpak daun rambutan tan
Tanduk uler mati-ti
Tikus maen di loteng teng
Tengok ayam betelor
Lori jalannya maju ju
Juwal minyak angin ngin

Bocah angon maen bajak
Di lumpur sepaha
Buletan rumput jadi rebutan dengan berbagai cara bebas
Dijepit
Dibanting
Dihadang
Dibawa lari
Terpelanting-pelanting
Bersama tertawa-tawa
Selepas minum limun sesajen
Makan bekakak ancak
Sadar kebahagiaan itu sederhana….
Kebalen sunyi, 5/4/2015

DAFTAR KEPALA DESA SE KAB. BEKASI

Senin, Oktober 16, 2017 oleh

Rurah Sekabupaten Bekasi Rentagan Tahun 1985 s/d 1993.

Berikut Nama-Nama Dan Desanya
Di Mulai Dari Barisan Sebelah Kiri:

I.
1.H.R Supriyadi
Ketua Dprd Kab DT II Bekasi
2.H.Suko Martono
Bupati Kepala Daerah Tk.II Bekasi

II. Nama-Nama Kepala Desa
A.Baris Pertama
1H.Laman Djasam
Ds.Sindang Jaya Kec.Cabang Bungin
2.Natrom Nursamsu
Ds.Mustika Jaya Kec.BantarGebang
3.H.Surahma
Ds.Gandasari Kec.Cibitung
4.Titin Chotimah
Ds.Wanasari Kec.Cibitung
5.H.Abdul Madjid
Ds.Jati Makmur Kec.Pondok Gede
6.H.Muhamad Hs
Ds.Segara Jaya Kec.Tarumajaya
7.HM.Nemin
Ds.Seriamur Kec.Tambun

B.Baris Ke Dua
1.M. Acip
Ds.Jati Reja Kec.Lemahabang
2.R.Cece Jakarsih
Ds.Kertasari Kec.Pebayuran
3.HM.Nimun
Ds.Suka Mekar Kec.Tambelang
4.Nelatan Tawi
Ds.Cikarageman Kec.Setu
5.M.Kalim Apan
Ds.Mustika Sari Kec.Bantargebang
6.Betok
Ds.Naga Sari Kec.Serang
7.Toni Suryana
Ds.Burangkeng Kec.Setu
8.Ujang Suryana
Ds.Sukabungah Kec.Cibarusah
8.Hamdarun
Ds.Waluya Kec.Cikarang

C.Baris Ke Tiga
1.Nisan Kursaen
Ds.Pantai Hurip Kec.Babelan
2.D.Sukandi
Ds.Karang Mekar Kec.Kedung Waringin
3.M.Toton
Ds.Ganda Mekar Kec.Cibitung
4.Suwandi Sachri
Ds.Cijengkol Kec.Setu
5.Sudanto
Ds.Taanjung Baru Kec.Lemahabang
6.Goler Djawari
Ds.Setia Mulya Kec.Taruma Jaya
7.Aca
Ds.Karang Rahayu Kec.Cikarang
8.Akbar Sairi
Ds.Satria Jaya Kec.Tambun
9.Ali Saeri
Ds.Kedungwaringin Kec.Kedungwaringin

D.Baris Ke Empat
1.Achmad Yasin
Ds.Harja Mekar Kec.Cibitung
2.M.Buchori
Ds.Karang Satu Kec.Cikarang
3.H.M.Misman
Ds.Muara Bakti Kec.Babelan
4.H.Sumarta
Ds.Taman Rahayu Kec.Setu
5.Karsan
Ds.Karang Reja Kec.Pebayuran
6.Hasan Sidik.S
Ds.Waringin Jaya Kec.Kesungwaringin
7.Imun Munandar
Ds.Lubang Buaya Kec.Setu
8.Ujang E.Misnan
Ds.Karang Sentosa Kec.Cikarang
9.HM.Nurhasanudin
Ds.Bantar Gebang Kec.Bantargebang

E.Baris Ke Lima
1.L.Usman
Ds.Jati Kramat Kec.Pwk Jatiasih
2.Nurja Siban
Ds.Kesung Pengawas Kec.Babelan
3.H.Suparjan
Ds.Sri Jaya Kec.Tambun
4.M.Binin
Ds.Taman Sari Kec.Setu
5.M.Timan Bari
Ds.Pantai Makmur Kec.Taruma Jaya
6.Saman Lebar
Ds.Samudra Jaya Kec.Taryma Jaya
7.Uleng Mulyana
Ds.Kerta Rahayu Kec.Setu
8.H.Nimin
Ds.Jati Rahayu Kec.Pondok Gede
9.Wagimin
Ds.Jaya Sampurna Keec.Serang

F.Baris Ke Enam
1.Gusti Ketut Chandra
Ds.Pantai Bakti Kec.Muara Gemong
2.Dahla Tambek
Ds.Karang Harum Kec.Kedungwaringin
3.M.Dehan
Ds.Suka Rapih Kec.Tambelang
4.Nisan Sutarsa
Ds.Mukti Jaya Kec.Setu
5.Mardani Hamdani S
Ds.Karang Setia Kec.Cikarang
6.Moch Nurhasan
Ds.Mekar Jaya Kec Pwk.Kedungwaringin
7.M.Selamat
Ds.Sumber Sari Kec.Pebayuran
8.Ali Basyah
Ds.Sumber Urip Kec.Pebayuran
9.H.Hanapi
Ds.Jati Bening Kec.Pondok Gede

G.Baris Ke Tujuh
1.Bambang Mendon
Ds.Lenggah Sari Kec.Cabangbungin
2.Selih Djasan
Ds.Satria Mekar Kec.Tambun
3.M.Nadih
Ds.Sri Mukti Kec.Cibitung
4.Usman Firdaus
Ds.Jati Warna Kec.Pondok Gede
5.Kimin
Ds.Suka Bakti Kec.Tambelang
6.Martan E
Ds.Jati Rasa Kec.Pwk Jati Asih
7.Dacheum
Ds.Jati Sampurna Kec.Pwk Jatisampurna
8.M.Sarif H
Ds.Jati Ranggon Kec.Pwk Jatisampurna
9.M.Saman
Ds.Jati Sari Kec.Pwk Jati Asih

Silahkan Di Longok Alo Akur Tolong Dikomen

Sabtu, 16 September 2017

SURAT CINTA UNTUK MEIKARTA

Sabtu, September 16, 2017 oleh

Surat Cinta untuk Meikarta

Tiba-tiba namamu mencelat menohok otak dan sumsum tulang....

Demi Allah, Aku tidak benci dengan namamu...

Biasa saja.....

Hanya, perlu kau tahu bahwa kehadiranmu membuat Tanah Bekasi  meradang....

Membekap Tanah bercumbu dengan air....
Memblokir adem aer membasahi bumi...
Membiarkan bergelombang menggelontor ke dataran lebih rendah....
Padahal perut  Bumi membutuhkan Air pelepas kerontang peradaban....

Kau timpakan beban berlebih untuk Tanah Bekasi....

Mei, di wilayah situ sudah ada Kampung yang terlebih dulu ada....
Lebih dulu..

Lebih Tua...

Dengan Sejarah dan Budaya tersimpan di dalamnya...

Kau tak sadar kah bahwa Kau membunuh masa silam....?

Menggerus Budaya dan Tradisi lokal....
Mengenyahkan kearifan lokal ke Tong Sampah Peradaban....

Mei, Kau begitu mempesona dan kerlingmu membuat banyak yang tak berdaya....

Kau menipu....
Karena yang kau lakukan tak lebih dari merampok oksigen...
Kau dirikan pagar untuk membedakan penghunimu sbg Manusia2'khusus yang memiliki keistimewaan karena segepok rupiah...

Berhentilah atau Alam akan menghukummu....

Berhentilah atau Tanah Tua ini akan menebarkan Hukuman....
Karena kuwalat....

Kuwalat....
Kuwalat...
Kuwalat....

Ini kusampaikan
Setelah itu TERSERAH.....

#TolakMeikarta

Nyanyi Lirih untuk Petani

Sabtu, September 16, 2017 oleh Komentari

Ada skenario masif dan terstruktur dalam ikhtiar mengusur pertanian dari Bumi Bekasi....

Sehingga pemilik lahan pertanian yang kurang2 modal gak bisa bertahan...

Sementara godaan yang mao beli hampir setiap menit nawarin. 

Misalnya kebutuhan aer utk sawah.

Irigasi yang dari Kali Malang gak bisa ngalir ke lahan pertanian yang rata2 ada di Belah Utara. 
Gimana mao ngalir ke sawah di Sukawangi atau Tambun Utara kalau di Tambun Selatan  atau Sukatani dibangun perumahan.

Akhirnya buat ngaerin sawah kudu nyedot dari Kali. Laah..kalinya item ama limbah.

Akhirnya ya udah....punya lahan sawah gak nguntungin. Jual aja. Bisa beli motor, mobil dan kawin lagi.

Pas dijual, bukannya beli yang produktif malah beli barang konsumtif.

Gancyang cerita Bures Banda.
Pemilik lahan jadi oetani penggarap.

#TolakMeikarta
#Moratoriumperumahanindustri

Sabtu, 29 Juli 2017

Harum Tanah Merah Setu

Sabtu, Juli 29, 2017 oleh


==kim==

Tanah selalu mulia
Namun ia tak pernah sekata pun mengeluh...

Dedaunan sama Mulia
Daun Jati
Daun Rambutan
Daun Nangka
Daun Misbul
Daun Angsana
Daun Capi
Daun Pisang
Namun mereka tak pernah meminta balas atas oksigen yang diproduksi....

Bumi mulia
Manusia yang tak tahu terimakasih
Keluh kesah dan sumpah serapah untuk tanah becek belok dan berlumpur akibat tanah disiram hujan....

Manusia ingin Coran padahal itu menutup hak tanah atas aer....

Manusia membalak batang batang dan dedaunan....
Tak pernah berterimakasih untuk yang telah diberikan dedaunan...

Dimanakah rasa terimakasih itu kawan?

Setu, 29 Juli 2017